STORIES FROM THE STORE-ROOM #2

ANGKI PURBANDONO

AngkiPurbandono (born 1971), is one of the best artists of his generation from Yogyakarta, Indonesia. He proposes avant-garde ideas, crosses the borders of medium and technique, and offers a new perspective on creating visual images. In 2008, Angki started trying to open other possibilities offered by photography and its mode of creation and seek imaginative options related to objects. 

Angki has been pursuing scanography for nearly two decades, and it has brought him to diverse possibilities of work creation and presentation. In his hands, photography finds a new space for dialog between the history of objects and their social ideas. Through the scanning method, objects and their histories are manipulated, stretched, juxtaposed, composed, and staged to create new, dynamic metaphors and meanings. His journeys as an artist provide an opportunity to see diverse objects representing a particular context and cultural identity. This, along with his wild, creative perspective, enables him to find a new imagination. He might see objects with his weird, unique, and disturbing gaze, but at the same time, it leads to new possibilities of how we see things. 

In the Happy Scan exhibition , the trace of the artist's journeys could be found in his pill series, at which audiences could see pictures of huge pills and exposing a strong effect to those who are watching. New interpretations can be drawn when we look at the pill series against the backdrop of today's situation. In the COVID-19 pandemic, hygiene and medical problems have received unprecedented attention. Furthermore, medicine is not only to protect our bodies and lives; it becomes a locus of contestation involving highly economic and political interests. During this two-year pandemic, lives and humanity are under threat; in the hands of politicians, businessmen, and authoritarian groups, people's lives are at stake. The competing discourses between science and philosophy of life, economic interest, and people's lives all bring people to the essential question on the relation between body and spirituality, between cosmology and knowledge. 

In the context of the pandemic, AngkiPurbandono's pill series remind us of malaise: headache, nausea, fever, hard to breathe, shiver, cough, etc. In addition, emotional and rational burden leads us to look for medicines to treat our anxiety, stress, loneliness, and despair. With its massive size in bright Neon Box appearance, Angki's pills seem to ring the bell of memory regarding modern people's problem: the complex relation between heart and body.

Two works under the series are contraceptive pills. Even after two decade after the works created, sexuality is still taboo for Indonesian society. It is repressed and, therefore, becomes the scapegoat for problems related to norms and cultural values. The repression, paradoxically, leads to more significant social issues. Contraception is a form of intervention to the body; it aims to control and compromise its reproductive function. Contraception should be optional as it is related to body sovereignty. It should protect women from the patriarchal structure that endangers women's wombs and futures. 

Angki's works offer sharp satire on our relations with objects—especially in the context of capitalism, global consumerism, and political power relation—and enable us to have a new imagining of social phenomena and personal meaning regarding the objects presented. During the COVID-19 pandemic, we spend most of our time at home. This transforms our relation with our deep memories and objects around us. Through these works, AngkiPurbandono offers a new conversation that enables us to recreate images and narratives revealing from our memories and the ways we engage with day-to-day objects. 

Angki Purbandono adalah salah satu seniman penting di generasinya yang menunjukkan pemikiran-pemikiran avantgarde, melintasi batas medium dan teknik, serta menawarkan perspektif baru berkaitan dengan pembentukan citra visual. Semenjak 2008, Angki mencoba untuk mengulik kemungkinan lain atas fotografi dan mode penciptaannya; untuk menantang kemungkina nimajinatif lain atas benda-benda. 

Moda scanografi telah ditekuninya hamper dua dekade, membawanya pada berbagai kemungkinan penciptaan dan presentasi. Melalui metoda memindai, benda-benda dengan kesejarahannya dimanipulasi, direntang, dijajarkan, dikomposisikan, dipanggungkan, hingga menciptakan metaphor dan makna-makna baru yang dinamis. Perjalanan-perjalanan yang dilakukan Angki sebagai seniman juga member kesempatan untuk melihat benda sebagai representasi dari konteks dan identitas budaya tertentu; bertemu dengan imajinasi baru dan kenakalan cara pandangnya sebagai seniman. Sebuah tatapan yang unik, ganjil, mengganggu dan pada saat yang sama memberi kemungkinan baru atas cara kita melihat benda-benda. 

Melihat kembali karya-karya seri pil dalam konteks masakini, kita menafsir dengan cara baru yang sesuai dengan keseharian kita sekarang. Dalam masa pandemic covid-19, persoalan higienitas dan medis menjadi pusat dari kehidupan. Manusia menjadi dekat dengan berbagai macam obat, baik yang bersifat kimia maupun upaya untuk mencari imunitas dari tanaman-tanaman di sekitar kita. Ketika kita memandangi kembali karya Angki Purbandono seri pil medis dalam konteks masa kini, kita diingatkan pada rasa-rasa tak nyaman yang dirasakan dalam tubuh; ingatan atas rasa pening, mual, demam, sesak nafas, menggigil, batuk, dan sebagainya. Tak hanya itu, beban emosional dan rasional kita juga pada akhirnya membawa kita untuk melabuhkan pencarian pada pil medis untuk kecemasan, ketegangan, kesepian dan bahkan perasaan putus asa. Dalam ukurannya yang diperbesar, dengan tampilan neonbox yang cukup gemilang, pil-pil dalam karya Angki seperti membunyikan bel ingatan kita atas kompleks atas problem raga dan batin masyarakat modern.

Dua dalam empat seri karya tersebut adalah pil kontrasepsi. Konteks budaya ketika karya ini dibuat pada tahun 2008 hingga sekarang, hamper dua decade setelahnya, tidak banyak berubah. Seksualitas masih menjadi bagian dari tabu social dalam masyarakat Indonesia. Standar moral yang ambigu masih menjadi fenomena sehari-hari dimana seksualitas disembunyikan dan dijadikan kambing hitam pada banyak problem norma dan nilai, tetapi upaya menutupi itu justru menimbulkan masalah sosial yang lebih besar. Kontrasepsi dalam tata kehidupan masyarakat modern adalah sebuah intervensi terhadap tubuh untuk membuat fungsi reproduksi bisa dikontrol dan dinegosiasikan.

Karya-karya Angki tidak saja menawarkan satir yang pedas atas relasi kita dengan objek-objek—dalam konteks kapitalisme, konsumerisme global, relasi kuasa politis dan sebagainya—melainkan juga membawa kita pada imajinasi baru tentang fenomena social dan makna personal objek-objek. Sekali lagi, dalam konteks ketika kita berada dalam masa pandemi, menghabiskan waktu dalam rumah, kita mengalami transisi dan transformasi berkaitan dengan relasi kita atas kenangan dan benda-benda. Melalui karya-karya ini, Angki Purbandono menawarkan percakapan baru untuk membangun komposisi imaji dan narasi yang lahir dari amatan kita atas benda-benda dan arsip hidup kita.

writer: Alia Swastika

THIS EXHIBITION IS OPEN TO VISITORS FROM22TH FEBRUARY 2022 TO 31TH MARCH 2022

past exhibition; https://art.biasagroup.com/exhibit/ 

Related Posts

STORIES FROM THE STORE-ROOM #2

Feb 22, 2022 Biasa Group

CONNECTED

Nov 30, 2019 Biasa Group